Berikut ini slide Kidung Persaudaraan untuk kebutuhan Tata Ibadah HUT GPI (Gereja Protestan di Indonesia) tahun 2025.
Kidung Persaudaraan 8 - Mari Tamang
Kidung Persaudaraan 24 Di Tengah Ombak
SEJARAH GPI
Bermula dari pelayanan ibadah hari Minggu pada tanggal 27 Februari 1605 di Benteng Victoria - Ambon, untuk pertama kalinya, orang-orang Protestan asal Belanda melaksanakan ibadah dengan menggunakan Tata Ibadah Gereja Protestan.
Dikemudian hari moment ini dipakai sebagai hari lahirnya De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie atau lebih dikenal dengan Indische Kerk yang pada tahun 1948 dalam semangat nasionalisme, nama tersebut diganti menjadi Gereja Protestan di Indonesia (GPI).
Kemudian sejak tahun 1934 – 1948, jemaat-jemaat Indische Kerk atau GPI mengalami pemandirian. Tahun 1934 di wilayah Minahasa berdiri Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Tahun 1935 di wilayah Maluku berdiri Gereja Protestan Maluku (GPM). Tahun 1947 di Wilayah Nusa Tenggara Timur berdiri Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT).
Dan pada tahun 1948, di sebelah Barat dari tiga gereja saudara ini, berdiri Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB). Kemudian wilayah-wilayah Pekabaran Injil dari gereja bersaudara itu mengalami pemekaran lagi. Sehingga jumlah anggota GPI pada saat ini adalah 12 Gereja Bagian Mandiri: GMIM, GPM. GMIT, GPIB, GPID, GPIBT, GPIG, GKLB, GPI Papua, IECC, GPIBK dan GERMITA.
Kini, Gereja Protestan di Indonesia telah memasuki usia 420 tahun. Pencapaian usia ini, bisa terjadi semata-mata karena cinta kasih Allah yang telah memimpin dan menuntun Gereja-Nya dalam melaksanakan tugas pengutusan-Nya, menghadirkan keadilan, kebenaran dan perdamaian di dunia ini.
















0 Comments